Rabu, 15 Mei 2013

Program Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus


Tugas Psikologi Pendidikan
Program Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Pandangan masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang berbeda dalam banyak hal dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya. Artinya ada perbedaan yang sangat mencolok, sehingga menimbulkan kekhawatiran / keraguan akan kemampuan anak-anak tersebut jika belajar secara bersama-sama dengan anak normal pada umumnya. Oleh karena itu mereka harus mendapat layanan pendidikan secara khusus. Maka timbulah pandangan bahwa konsep Pendidikan Luar Biasa identik dengan Sekolah Luar Biasa.

Program SLB A
·         SLB Bagian A, yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan secara khusus untuk peserta didik yag menyandang kelainan pada penglihatan (Tunanetra).
·         Orientasi dan mobilitas untuk peserta didik Tunanetra


Tujuan :
·         Untuk membimbing anak pada kehidupan yang mandiri.
·         Membimbing anak untuk mendapat pengakuan dan tempat yang layak di masyarakat.

Program pendidikan :
·         Program pendidikan umum, seperti pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kerajian Tangan dan Kesenian.
·         Pembelajaran menggunakan Huruf Braille.
·         Orientasi dan Mobilitasi (OM), merupakan kemampuan bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan indera yang masih ada atau masih berfungsi dengan cepat, tepat, aman, seperti :
-       Jalan dengan pendamping / ada yang mengawasi.
-       Jalan mandiri
-       Latihan bantu diri. Alat bantu yang digunakan dalam orientasi dan mobilitas adalah tongkat putih atau tongkat elektronik, kacamata elektronik, dll
·         Belajar Matematika, dengan alat bantu berhitung seperti lidi atau kalkulator. Dapat juga menggunakan beberapa alat bantu menghitung seperti cubaritmen, taylor frame, dan abacus.
·         Program pendidikan jasmani untuk memantapkan latihan orientasi dan mobilitas, dengan menggunakan petunjuk bunyi-bunyian, bau-bauan, arah angin, dan matahari. Misalnya :
-       Lompat tali, anak dikenalkan dengan tali, letak tali. Anak berada di belakang guru. Anak meletakkan tangannya di bahu / pinggang guru dan belajar bersama.
-       Kayang, guru membimbing anak saat melakukan latihan mulai sikap berdiri, sikap tangan, gerak tubuh, hingga anak dapat melakukan kayang.
-       Bowling, Softball, Sepakbola, Basket, Renang, Sepatu roda, Senam, dan Tenis meja.
Alat khusus yang dapat digunakan antara lain :
-       reglet dan pena
-       mesin tik Braille
-       computer dengan program Braille
-       printer Braille
-       kertas braille
-       penggaris Braille
-       abacus
-       calculator bicara
-       kompas bicara

Alat bantu perabaan dan pendengaran, seperti :
-       menggunakan buku-buku dengan huruf Braille
-       menggunakan talking books (buku bicara), kaset (suara binatang), CD, kamus bicara.
Alat peraga yang dapat digunakan :
-       benda / model tiruan, model kerangka manusia, model alat pernafasan, dll
-       gambar timbul sesuai dengan bentuk asli, grafik, diagram dll
-       gambar timbul skematik, rangkaian listrik, denah, dll
-       peta timbul, seperti provinsi, pulau, negara, daratan, benua, dll.
-       globe timbul
-       papan baca
-       papan paku

Program SLB B
·         SLB Bagian B, yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan secara khusus untuk peserta didik yang menyandang kelainan pada pendengaran (Tunarungu).
·         Bina komunikasi, persepsi bunyi dan irama untuk peserta didik Tunarungu
Tujuan :
·         Membentuk optimisme anak untuk keluar dari masalah komunikasi
·         Membentuk anak untuk bersosialisasi dan berintegrasi dengan anak sebaya di sekolah maupun di dalam lingkungan rumah
Program pendidikan :
·         Memberikan layanan deteksi dini, diagnosa, konsultasi, fasilitator dan penyediaan alat bantu dengar ( hearing aid ) dan Implant Coachlea, perawatan dan servisnya.
·         Memberikan treatment Bina Persepsi Bunyi dan Irama (BPBI), Auditory Verbal dan Bina Wicara secara kontinyu dan konsisten
·         Program habilitasi melalui perbaikan cara komunikasi anak dengan menggunakan pendengaran sebagai titik tolak dalam berinteraksi dengan lingkungan luar anak.
·         Pendekatan komunikasi menggunakan komunikasi secara oral-aural (bukan isyarat) dan metode pemerolehan bahasa, yaitu Metode Maternal Reflektif. Hal ini memungkinkan anak mampu berbahasa dan berkomunikasi sebagai dasar untuk menguasai kompetensi yang lain.

Keterbatasan dalam komunikasi oral atau lisan berakibat pada lemahnya daya tangkap dan kemampuan berbahasa seseorang. Jika seorang anak lemah daya tangkapnya, ia akan merasa minder atau terganggu secara emosional serta hubungan sosialnya. Metode oral-aural ini bersifat aural, yakni menimbulkan daya tangkap anak terhadap bahasa yang didengarnya dari ucapan orang lain dan memahami maksudnya. Sementara itu, bersifat oral berarti agar anak dapat menggunakan bahasa secara lisan dalam pergaulan.

Cara manual dilakukan dengan memainkan bunyi-bunyian di belakang seorang anak. Setelah kemampuan pendengaran diketahui, anak diajarkan cara berkomunikasi oral, yaitu dengan menirukan bentuk mulut, merasakan getaran suara di bagian dada, serta ekspresi atau raut muka lawan bicara. Setelah itu, anak berlatih melafalkan kata-kata, dan kemudian akan diajari pula penggunaan bahasa isyarat dengan tangan.



·         Program pengembangan keterampilan & budi pekerti :
-       Tata boga, tata busana
-       Membatik
-       Komputer
-       Melukis
-       Kegiatan kepramukaan
-       Outbond
-       Widyawisata



Program SLB C
·         SLB Bagian C, yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan secara khusus untuk peserta didik tunagrahita ringan dan SLB Bagian C1, yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan secara khusus untuk peserta didik tunagrahita sedang.
·         Bina Diri untuk peserta didik Tunagrahita Ringan dan Sedang
Tujuan :
·         Membangun ortopedagogik pada anak tunagrahita.
·         Agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.
·         Dapat mengembangkan potensi dengan sebaik-baiknya.
·         Dapat menolong diri, berdiri sendiri dan berguna bagi masyarakat.
Program pendidikan :
·         Program mata pelajaran dasar umum, terdiri dari :
-       Pendidikan Agama
-       Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
-       Bahasa Indonesia
-       Bahasa Inggris
-       Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA )
-       Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS )
-       Matematika

·         Program pengembangan keterampilan, terdiri dari :
-       Tata Boga
-       Tata Graha
-       Mengetik / Komputer
-       Prakarya
-       Refleksi
-       Holtikultura
-       Menjahit
-       Sablon


·         Ekstrakurikuler, terdiri dari :
-       Seni Tari                            - Olahraga
-       Berenang                           - Pramuka
-       Pianika                              - Angklung
-       Badminton

Program SLB D
·         SLB Bagian D, yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan secara khusus untuk peserta didik tunadaksa tanpa adanya gangguan kecerdasan dan SLB D1, yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan secara khusus untuk peserta didik tunadaksa yang disertai dengan gangguan kecerdasan.
·         Bina Gerak untuk peserta didik Tunadaksa Ringan
Tujuan :
·         Mengembangkan potensi anak seoptimal mungkin.
·         Agar anak dapat mandiri, minimal dapat mengurus dirinya sendiri, menjadi lebih baik atau dapat meningkat kualitas hidupnya.
·         Anak dapat mengatasi permasalahan yang timbul sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari kecacatannya.

Program pendidikan :
·         Kegiatan identifikasi dan asesmen kemampuan dan ketidakmampuan anak dalam segi fisik, mental, sosial, akademik, dan keterampilannya.

Assesmen dilakukan oleh team yang terdiri dari :
-       Team Medis : dokter ahli anak, dokter ahli rehabilitasi, Fisioterapist.
-       Team Pendidikan : Orthopedagog, Psikolog, Kepala Sekolah dan para guru.
-       Team Sosial : Sosial Worker.
-       Team Keterampilan : para Instruktur dan guru-guru keterampilan.

·         Melaksanakan rehabilitasi kepada siswa tunadaksa, yaitu rehabilitasi medis, pendidikan, sosial, dan keterampilan.
·         Pengembangan intelektual dan akademik, membantu perkembangan fisik, meningkatkan perkembangan emosi dan penerimaan diri anak, mematangkan aspek sosial, mematangkan moral dan spiritual, meningkatkan ekspresi diri, dan mempersiapkan masa depan anak.
·         Pembelajaran dilaksanakan di Ruang Belajar Kita ( RBK ) sebanyak mata pelajaran yang ada, karena di RBK terdapat banyak sumber dan alat-alat yang dapat membantu pemahaman anak dalam belajar. Dengan berpindah tempat belajar antar RBK, anak sekaligus latihan gerak mobilitas, juga anak-anak tidak cepat bosan dengan banyak variasi ruangan serta lingkungannya.
·         Program khusus berupa bina gerak, bina diri dan bina wicara serta program pilihan seperti tata boga, olahraga, perkebunan, tanaman hias, dan pertukangan.


Program SLB E
·         SLB Bagian E, yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan secara khusus untuk peserta didik tunalaras.
·         Bina pribadi dan sosial untuk peserta didik tunalaras.

Tujuan :
·         Membentuk anak berkebutuhan khusus yang berprestasi, terampil, mandiri, berbudi pekerti luhur dan memasyarakat.
·         Agar anak dapat hidup bersosialisasi dan diterima oleh masyarakat.
·         Agar anak memiliki ketrampilan dasar sesuai bakat dan minatnya.
·         Menumbuh-kembangkan pengamalan agama dan budaya luhur anak.
·         Meningkatkan citra harkat dan martabat anak berkebutuhan khusus sehingga tidak mendapatkan perlakuan diskriminatif dari pihak manapun.
Program pendidikan :
·         Program pendidikan umum, seperti pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kerajian Tangan dan Kesenian.
·         Pembelajaran dengan pendekatan aktif, inovatif, kreatif,  dan menyenangkan, serta pendekatan CTL (Contextual Teacher Learning) secara efektik  terus-menerus dan berkesinambungan.
·         Penyelenggaraan bimbingan dan penyuluhan
·         Terapi perilaku sosial
·         Terapi kelompok (peer teaching)
·         Mengenalkan anak pada kehidupan sosial yang baik, seperti melalui game kelompok dan sebagainya, untuk meningkatkan kebersamaan dan kehidupan social anak.
·         Memberikan pengajaran dengan metode diskusi dan kelompok untuk meningkatkan kepercayaan diri anak.
·         Kegiatan outbond, agar anak berlatih bekerja sama dalam satu tim untuk mencapai tujuan, saling membantu, melatih menjaga konsentrasi dengan pasangan.
Program SLB G
·         SLB Bagian G, yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan secara khusus untuk peserta didik tunaganda.
·         Bina diri dan bina gerak untuk peserta didik Tunadaksa Sedang dan Tunaganda.


Tujuan :
·         untuk meningkatkan kemandirian anak
Program pendidikan :
·         Program pendidikan mengakses empat bidang utama, yaitu bidang domestik, rekreasional, kemasyarakatan, dan vokasional.
·         Pengajaran mencakup di antaranya : ekspresi pilihan, komunikasi, pengembangan keterampilan fungsional, dan latihan keterampilan sosial sesuai dengan usia anak.
·         Ada kerja sama antara terapis bicara dan bahasa, terapi fisik dan okupasional dengan guru-guru serta orangtua dalam menyadari akan kondisi obyektif anak-anak tunaganda.
·         Memberikan layanan yang terbaik dalam proses pembelajaran yang didukung dengan penataan kelas yang sesuai serta alat bantu dalam meningkatan keterampilan fungsional anak untuk dapat menjamin kemandirian.
·         Pengembangkan keterampilan sosial dan persahabatan untuk meningkatkan integrasi dengan anak seusia serta dapat mendorong adanya perubahan sikap yang lebih positif melalui berpartisipasi dalam kegiatan yg sama dengan anak-anak normal.




Oleh :
Eka Sartika - 121301007
Riza Indri Sri Metami Barus - 121301011
Triana Hamidah - 121301017
Nanda Rizkita - 121301025
Muthia Audina - 121301029
Nuraini - 121301067

Rabu, 24 April 2013

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)



Tugas Psikologi Pendidikan : Pendapat mengenai Pendidikan Anak Usia Dini pada Masa kini



2.1 Pengertian Pendidikan anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah “suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” (UU No 20 Th 2003, Ps.1, butir 14)
2.2 Tujuan Umum PAUD :
Membantu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan : “ Fisik, intelektual, emosional, moral & agama “ secara optimal dalam lingkungan pendidikan yang kondusif, demokratis & kompetitif.
2.3 Pengertian Pendidikan Anak Prasekolah
 Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan  Nasional, Pasal 12 Ayat 2 menyebutkan bahwa pendidikan anak prasekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi, pengetahuan dan keterampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin seumur hidup (Patmonodewo, 2003).
Biechler dan Snowman (dalam Patmonodewo, 2003) :anak prasekorah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun. Menurut The National Association for The Education (Patmonodewo, 2003), istilah preschool adalah anak antara usia “toodler” (usia dimana anak mulai berjalan sendiri sampai usia tiga tahun) dan usia masuk kelas satu (biasanya antara tiga sampai dengan lima tahun).
2.4  Jalur Penyelenggaraan

Ø  Jalur  Formal : Taman Kanak-kanak(TK), Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lainsederajat
Ø  Jalur Nonformal : Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain sederajat
Ø  Jalur Informal : Pendidikan Keluarga atau Pendidikan yang Diselenggarakan oleh Lingkungan 


22.5  Kesimpulan
Dari uraian sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
a.          Sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pendidikan anak usia dini  adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
b.         Berbagai pandanga ahli pendidikan anak menyampaikan betapa pentingnya pendidikan di usia dini sebagai landasan bagi keberhasilan pendidikan di jejang berikutnya. Begitu juga mereka berpendapat bahwa pendidikan di usia dini akan menentukan perkembangan anak baik perkembangan intelektual, emosi sosial, spriritual, ataupun aspek lainnya.

2.2.6    Saran
Dari uraian di atas,  dalam hal ini mengajukan beberapa saran antara lain.
a.             Perlu adanya pengembangan yang lebih optimal terhadap pendidikan anak usia dini, baik yang dilakukan oleh pemerintah, keluarga maupun masyarakat. Masa prasekolah yang disebut dengan masa keemasan perkembangan intelektual seharusnya dijadikan dasar bagi upaya meningkatkan kemajuan pendidikan di Indonesia.
b.             Sosialisasi tentang pentingnya pendidikan anak usia dini harus terus dilakukan, karena berdasarkan data yang ada angka partisipasi kasar masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini masih sangat rendah.
c.             Kualifikasi pendidik anak usia dini harus terus ditingkatkan baik kualifikasi akademisnya maupun dalam bentuk pelatihan dan penataran lainnya.












Senin, 22 April 2013

FENOMENA 1 “HOMESCHOOLING”


Ada banyak fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia, ada yang membawa dampak buruk ada  pula yang membawa dampak baik. Semua tergantung pada cara kita memandang dan menanggapi setiap fenomena yang terjadi. Berikut ini ada 3 fenomena seputar dunia pendidikan di Indonesia beserta pembahasannya ditinjau dari sudut pandang beberapa teori.
FENOMENA 1 “HOMESCHOOLING”
sumber: hadisupeno.com/pendidikan/57-fenomena-pendidikan-homeschooling.html
                                                         
Pendidikan Homeschooling saat ini sedang marak-maraknya dilakukan oleh para orang tua kepada anaknya untuk bersekolah tetapi sekolahnya di rumah dengan bantuan guru yang bisa jua gurunya adalah orang tua,guru private,atau para tutor mengajar anak di rumah.Ia tidak terikat pada lembaga pendidikan konvensional seperti sekolah atau lembaga nonformal lainnya.Tetapi kurikulum yang digunakan mengacu pada kurikulum pemerintah.
PEMBAHASAN
  1. Teori Psikologi Pendidikan 
Berdasarkan teori pendidikan dapat diketahui dalam artikel tersebut bahwa anak-anak dapat memiliki program apa saja yang dia sukai untuk dapat bersekolah salah satunya homeschooling tersebut.Jika dulu homeschooling diperuntukkan bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Dengan adanya homeschooling ini,setiap anak dapat mengembangkan potensial yang ada pada dirinya sesuai mata pelajaran yang disukainya secara maksimal,anak homeschooling jua lebih aktif dan serius dalam pembelajaran belajar dirumahnya daripada diluar rumah seperti sekolah. Tapi homeschooling ada jua dampak negatifnya,kurangnya sosialisasi seorang anak terhadap lingkungan luarnya atau kurangnya sosialisasi terhadap teman sebayanya dalam pengalaman hidup.Dan jika anak homeschooling cuma belajar bersama guru atau tutor yang mengajarinya,dan gak adanya persaingan untuk mencapai prestasi atau sebuah peringkat atau juara siapa yang paling pintar diantara yang pintar atau diantara teman-teman sebayanya.itu salah satu dampak negatifnya homeschooling.

2.      Teori Pendidikan Keluarga

Dalam pembahasan teori ini terhadap artikel tersebut bahwa anak-anak yang homeschooling walaupun tidak belajar di sekolah namun mereka dapat belajar di rumah bersama keluarganya.dalam hal ini anak hanya bersosialisasi dengan keluarganya tanpa adanya teman sebaya nya.Keluarga bisa dianggap sebagai pengganti temannya sehingga keluarga yang tinggal bersamanya dalam satu rumah dianggap sudah seperti temannya.Misalnya peran orang tua sebagai keluarganya yang sekarang dekat padanya yaitu mengetahui segala perasaannya yang sedang sedih,kacau,maupun senang,pembentuk kepribadian mental, sikap dan perilaku anaknya kepada orangtuanya.Dalam hal ini peran orang tua terhadap anaknya sangat penuh dalam hal apapun yang masih berada di lingkungan keluarganya.Orang tua dapat mengetahui,mengontrol,dan menasehati perilaku2 anak yang baik maupun yang tidak baik daripada jika anak berada di sekolah dan juga dapat mengompakkan antara anak dan orang tua.Jika berada di sekolah tentu saja orangtua hanya sepintas tahu bagaimana perilaku anaknya itupun kalau dikasi tahu oleh gurunya.itu makanya orangtua salah satunya memilih homeschooling utk dapat anaknya dapat belajar dengan baik

3.      Teori Bimbingan Sekolah

Dalam pembahasan dari teori bimbingan sekolah dapat diketahui dalam artikel tersebut bahwa anak-anak homeschooling dapat belajar dengan baik dan dapat mengekspresikan dirinya atau mengembangkan bakatnya,membentuk kepribadian dan karakter sifat anak tersebut sesuai pengetahuan yang didapatnya dari tutor atau guru tanpa harus belajar di sekolah.sistem pengajarannya sama seperti sistem pengajaran/kurikulum yang dibuat oleh pemerintah yaitu dengan dibantu oleh guru-guru atau tutor yang datang ke rumah untuk belajar bersama anak tersebut.Memang dalam teori Gadner dikatakan bahwa intelegensi setiap anak berbeda-beda walaupun begitu bukan berarti anak yang belajar di rumah intelegensi lebih rendah dari pada anak2 reguler yang biasa belajar di sekolah.malah dapat kita lihat dari pembahasan artikel diatas,anak2 yang homeschooling lebih bagus nilainya atau lebih tinggi nilainya pada saat ujian nasional daripada anak2 reguler biasa yang belajar di sekolah.itu salah satunya menunjukkan sebenarnya ada jua manfaat keduanya2 anak di sekolahkan di salah satunya tersebut.

FENOMENA 2 “KEBOCORAN UAN”
Ujian Akhir Nasional merupakan tolak ukur bagi para pelajar untuk dapat menerima predikat lulus dalam menamatkan pendidikannya. Ujian Akhir Nasional yang memiliki standar nilai kelulusan cukup tinggi menjadi momok menakutkan untuk para pelajar. Kebanyakan pelajar merasa cemas akan tidak lulus, pihak sekolah sendiripun akan merasa malu bila para siswa di sekolahnya tidak dapat lulus dalam Ujian Akhir Nasional. Ketakutan pihak sekolah dan para pelajar tersebutlah yang akhirnya membuka cela untuk mencoreng nama baik UAN dengan melakukan berbagai kecurangan untuk dapat meluluskan para pelajar.
PEMBAHASAN
  1. Teori Psikologi Pendidikan 
Teori psikologi pendidikan tentu saja mengajarkan etika yang baik bagi pengajar ataupun pelajar dalam proses pembelajaran. Namun bila pada kasus seperti fenomena diatas tentunya itu sudah melenceng jauh. Nama pendidikan sudah tercoreng oleh ulah oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Perilaku curang dalam ujian nasional akan menjadi pengajaran yang buruk bagi para penerus bangsa. Seharusnya para guru memberikan motivasi para pelajar agar mau bekerja keras untuk mendapat nilai ujian yang baik, bukan malah meluruskan tindakan pelajar yang menyalah.

2.      Teori Pendidikan Keluarga

Keluarga adalah faktor yang sangat mempengaruhi sikap dan perilaku seorang anak, apabila seorang anak dididik oleh keluarga yang baik tentunya anak tersebut akan bertingkahlaku baik pula. Namun jika sang anak tidak di berikan pengajaran yang baik dirumah maka dalam bermasyarakat tentunya sang anak juga akan bermasalah. Dalam kasus kecurangan unjian nasional sebenarnya peran keluarga atau orang tua memiliki andil yang cukup besar. Apabila sedari kecil orang tua sudah menanamkan nilai kejujuran pada sang anak tentunya anak tidak akan mau melakukan kecurang pada ujian nasional. Dan bila orang tua juga telah mengenalkan sikap berjiwa besar dalam menerima kekalahan sang anaknya tentunya tidak akan begitu cemas untuk menghadapi ujian akhir nasional.

3.      Teori Bimbingan Sekolah

Sekolah sebagai rumah kedua para pelajar, sudah selayaknya menjadi tempat bernaung dan belajar bagi para pelajar. Penanaman nilai-nilai kejujuran dan etika yang telah dibawa dari rumah seharusnya dapat diterapkan disekolah. Namun jika akhirnya malah terjadi kejadian seperti kebocoran ujian akhir nasional didalam sekolah, dapat dipastikan sekolah tersebut tidak menjujung nilai kejujuran dan sportifitas. Pihak sekolah belum mampu untuk mendidik perilaku para pelajarnya karena perilaku pihak sekolah sendiri masih belum benar.

FENOMENA 3 “EKONOMI PENGHAMBAT PENDIDIKAN”
Bukan menjadi rahasia umum jika uang adalah pengatur segala macam urusan di negara ini. Uang adalah hal terpenting bagi seseorang untuk dapat memenuhi hal yang diinginkannya. Begitu juga dengan pendidikan di negeri ini yang dapat diraih jika seseorang memiliki uang yang cukup. Di Indonesia masih banyak daerah terpencil yang belum terjangkau pendidikan. Masyarakat daerah terpencil yang sudah mengenyam bangku pendidikan mendapat porsi pendidikan yang berbeda dengan masyarakat kota dikarenakan kekurangan biaya, tenaga pengajar, sarana prasarana sekolah, dan masih banyak lagi hal yang menjadi faktor mengapa pendidikan begitu langka di beberapa tempat di tanah air bahkan pelaksanaan pendidikan di Indonesia kurang merata  terkesan tidak diperdulikan.
PEMBAHASAN
  1. Teori Psikologi Pendidikan 
Berdasarkan teori psikologi pendidikan ada beberapa tindakan yang bisa ditawarkan sekalipun hanya untuk sekedar meminimalisir ketidakseimbangan antara pendidikan di desa dan dikota antara lain
a.       Membentuk pandangan positif mengenai pentingnya pendidikan
b.      Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
c.       Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
d.      Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
e.       Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
g.      Menilai hasil pembelajaran yang adil
h.      memperhatikan minat dn prestasi siswa khususnya siswa yang kurang mampu

2.      Teori Pendidikan Keluarga

Keluarga didesa dengan keluarga di kota memang memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Mulai dari cara pandang dan berfikir sampai cara mendidikan seorang anak. Kebanyakan keluarga didesa tidak begitu memprioritaskan pendidikan anaknya, terutama anak perempuan yang dianggap hanya akan tinggal dirumah. Dengan keterbatasan keluarga didesa pihak yang paling bertanggungjawab untuk fenomena ini adalah pemerintah. Pemerintah harus lebih memperhatikan semua masyarakat dari berbagai macam kalangan. Bila pemerintah mau tanggap untuk melakukan sosialisasi tentunya pola pikir masyarakat desa akan bisa lebih maju (desa= daerah terpencil)

3.      Teori Bimbingan Sekolah

Sekolah didaerah terpencil tentunya sangat jauh berbeda dengan sekolah didaerah perkotaan. Sarana prasarana yang berbeda, tenaga pengajar yang kekurangan dan akses menuju sekolah yang kurang baik membuat pendidikan jadi begitu mahal. Semua hal tersebut tergantung pada kebijakan pemerintah, apabila pemerintah mau memperhatikan pendidikan didaerah terpencil seperti tenaga pengajar yang baik sarana dan prasarana yang bagus pendidikan di sekolah-sekolah daerah terpencil akan dapat maju dan setara dengan pendidikan didaerah kota besar.